LASKAR ESSENTIAL
Keanekaragaman flora dan faunanya
mampu memberikan sorotan lebih pada mata saya
Alangkah bahagianya saya dapat memijakkan langkah saya
di hamparan luas yang indah ini,,
Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Seruan syukur yang terlontar tak henti_hentinya terucap,,,,,
Ketenangan hati mampu terbukti di sini
Baluran ya betul baluran .....!!!!!!!!!
Selalu memberikan rasa lebih
Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Seruan syukur yang terlontar tak henti_hentinya terucap,,,,,
Ketenangan hati mampu terbukti di sini
Baluran ya betul baluran .....!!!!!!!!!
Selalu memberikan rasa lebih
hingga mampu memberikan istimewa
yang terungkap dengan datangnya seruan Hamdalah
Selamat datang!!!!!!
untuk persembahan yang tak terduga kesan istimewa ini,,,
Selamat datang!!!!!!
untuk persembahan yang tak terduga kesan istimewa ini,,,
Hanya satu kata
"INDAH"
Cpa tuh yang pling caem....!!!!
My Group yang kompak ya!!!!
woooowww......Autumn!!!!!!kren bgt

Biota Laut
Gersang Amat....!!!!! Taman Nasional Baluran merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Hutan dan Pelestarian Alam Departemen Kehutanan.
Ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomer: 279/Kpts-VI/1997 tanggal 25 Mei 1997 dan berdasarkan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam Nomor: 51/Kpts/DJ-VI/1987 tanggal 12 Desember 1997, wilayah kerjanya meliputi kawasan Taman Nasional Baluran, Taman Nasional Alas Purwo dan Cagar Alam/Taman Wisata Kawah Ijen.
1. SEJARAH TAMAN NASIONAL BALU RAN
Upaya penunjukan kawasan Baluran menjadi Suaka Margasatwa telah dirintis oleh Kebun Raya Bogor sejak tahun 1928, rintisan tersebut didasarkan kepada usulan A.H. LOEDEBOER yang menguasai daerah tersebut yang sebelumnya daerah ini sebagai lokasi perburuan.
Tahun 1937 kawasan Baluran ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa dengan Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda Nomor: 9 tahun 1937 (Lembaran Negara No. 544 tahun 1937)
Tujuan dijadikannya kawasan Baluran sebagai Suaka Margasatwa pada waktu itu adalah untuk melindungi berbagai jenis satwa langka dari kepunahan.
Pada tahun 1980 bertepatan dengan hari Pengumuman Strategi Pelestarian Dunia, Suaka Margasatwa Baluran dideklarasikan oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia sebagai Taman Nasional.
2.GAMBARAN UMUM
Taman Nasional Baluran dengan luas 25.000 Ha wilayah daratan dan 3.750 Ha wilayah perairan terletak di antara 114° 18' - 114° 27' Bujur Timur dan 7° 45' - 7° 57' Lintang Selatan. Daerah ini terletak di ujung Timur pulau Jawa. Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Madura, sebelah Timur berbatasan dengan Selat Bali, sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Bajulmati dan sebelah Barat berbatasan dengan Sungai Kelokoran.
Iklimnya bertipe Monsoon yang dipengaruhi oleh angin Timur yang kering. Curah hujan berkisar antara 900 - 1600 mm/tahun, dengan bulan kering per tahun rata-rata 9 bulan. Antara bulan Agustus s/d Desember bertiup angin cukup kencang dari arah Selatan.
Pada bagian tengah dari kawasan ini terdapat Gunung Baluran yang sudah tidak aktif lagi. Tinggi dinding kawahnya bervariasi antara 900 - 1.247 m, dan membatasi kaldera yang cukup luas.
Kawasan perairan memiliki keanekaragaman hayati dan ekosistem perairan yang perlu dilestarikan guna mendukung strategi konservasi yaitu:
- Perlindungan sistem penyangga kehidupan.
- Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya.
- Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Daerah perairan Taman Nasional Baluran sangat berpotensi guna dkembangkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.
3.FLORA DAN FAUNA
Taman Nasional Baluran merupakan satu-satunya kawasan di Pulau Jawa yang memiliki padangsavana alamiah. Luasnya ± 10.000 Ha atau sekitar 40% dari luas kawasan. Kawasan Baluran mempunyai ekosistem yang lengkap yaitu hutan mangrove, hutan pantai, hutan payau/rawa, hutan savana dan hutan musim(dataran rendah/ dataran tinggi).
Ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomer: 279/Kpts-VI/1997 tanggal 25 Mei 1997 dan berdasarkan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam Nomor: 51/Kpts/DJ-VI/1987 tanggal 12 Desember 1997, wilayah kerjanya meliputi kawasan Taman Nasional Baluran, Taman Nasional Alas Purwo dan Cagar Alam/Taman Wisata Kawah Ijen.
1. SEJARAH TAMAN NASIONAL BALU RAN
Upaya penunjukan kawasan Baluran menjadi Suaka Margasatwa telah dirintis oleh Kebun Raya Bogor sejak tahun 1928, rintisan tersebut didasarkan kepada usulan A.H. LOEDEBOER yang menguasai daerah tersebut yang sebelumnya daerah ini sebagai lokasi perburuan.
Tahun 1937 kawasan Baluran ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa dengan Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda Nomor: 9 tahun 1937 (Lembaran Negara No. 544 tahun 1937)
Tujuan dijadikannya kawasan Baluran sebagai Suaka Margasatwa pada waktu itu adalah untuk melindungi berbagai jenis satwa langka dari kepunahan.
Pada tahun 1980 bertepatan dengan hari Pengumuman Strategi Pelestarian Dunia, Suaka Margasatwa Baluran dideklarasikan oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia sebagai Taman Nasional.
2.GAMBARAN UMUM
Taman Nasional Baluran dengan luas 25.000 Ha wilayah daratan dan 3.750 Ha wilayah perairan terletak di antara 114° 18' - 114° 27' Bujur Timur dan 7° 45' - 7° 57' Lintang Selatan. Daerah ini terletak di ujung Timur pulau Jawa. Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Madura, sebelah Timur berbatasan dengan Selat Bali, sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Bajulmati dan sebelah Barat berbatasan dengan Sungai Kelokoran.
Iklimnya bertipe Monsoon yang dipengaruhi oleh angin Timur yang kering. Curah hujan berkisar antara 900 - 1600 mm/tahun, dengan bulan kering per tahun rata-rata 9 bulan. Antara bulan Agustus s/d Desember bertiup angin cukup kencang dari arah Selatan.
Pada bagian tengah dari kawasan ini terdapat Gunung Baluran yang sudah tidak aktif lagi. Tinggi dinding kawahnya bervariasi antara 900 - 1.247 m, dan membatasi kaldera yang cukup luas.
Kawasan perairan memiliki keanekaragaman hayati dan ekosistem perairan yang perlu dilestarikan guna mendukung strategi konservasi yaitu:
- Perlindungan sistem penyangga kehidupan.
- Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya.
- Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Daerah perairan Taman Nasional Baluran sangat berpotensi guna dkembangkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.
3.FLORA DAN FAUNA
Taman Nasional Baluran merupakan satu-satunya kawasan di Pulau Jawa yang memiliki padangsavana alamiah. Luasnya ± 10.000 Ha atau sekitar 40% dari luas kawasan. Kawasan Baluran mempunyai ekosistem yang lengkap yaitu hutan mangrove, hutan pantai, hutan payau/rawa, hutan savana dan hutan musim(dataran rendah/ dataran tinggi).
JENIS - JENIS HUTAN DI TAMAN NASIONAL BALURAN
Taman Nasional Baluran merupakan satu-satunya kawasan di Pulau Jawa yang memiliki padang savana alamiah. Luasnya ± 10.000 Ha atau sekitar 40% dari luas kawasan.Kawasan Baluran mempunyai ekosistem yang lengkap yaitu Hutan Mangrove, Hutan Pantai, Hutan Payau/Rawa, Hutan Savana dan Hutan Musim
(dataran tinggi dan dataran rendah).
A.HUTAN MANGROVE
Tipe hutan ini terdapat di daerah pantai Utara dan Timur kawasan Taman Nasional seperti di Bilik, Lempuyang, Mesigit, Tanjung Sedano dan Kelor. Pada daerah bakau yang masih baik (Kelor dan Bilik) flora yang umum dijumpai adalah Api-api (Avicenia spp.), Bogem (Sonneratia spp.) dan Bakau (Rhizophora spp.). Pada beberapa tempat dijumpai tegakan murni Tinggi (Ceriops tagal) dan Bakau (Rhizophora apiculata).Beberapa daerah lain seperti di Utara Pandean, Mesigit, sebelah Barat Bilik terdapat hutan bakau yang telah rusak. Daerah ini menjadi lumpur yang dalam pada musim hujan, tetapi akan berubah menjadi keras dan kering dengan lapisan garam di permukaan pada musim kering. Sedikit sekali pohon yang tumbuh disini dan tidak dijumpai tumbuhan bawah. Beberapa species yang tumbuh antara lain adalah Api-api (Avicenia sp.) dan Truntun (Lumnitzera racemosa).di Taman Nasional Baluran tahun 1994 / 1995 di daerah sekitar Bama terdapat salah satu pohon bakau yang diduga terbesar di dunia dengan keliling pohon 450 cm.
B.HUTAN PAYAU/RAWA
Hutan Payau di Baluran merupakan daerah ekoton yang berbatasan dengan savana. Penyebaran hutan ini sebagian besar terdapat di Kalikepuh bagian tenggara dan pada luasan yang lebih kecil terdapat di Popongan, Kelor, bagian Timur Bama serta barat laut Gatel. Jenis-jenis pohon yang selalu hijau sepanjang tahun pada hutan ini dijumpai jenis-jenis pohon antara lain Malengan (Excoecaria agallocha), Manting (Syzigium polyanthumm) dan Popohan rengas (Buchacania arborescens)
C.HUTAN SAVANA
C.HUTAN SAVANA
Tipe habitat ini merupakan klimaks kebakaran yang sangat dipengaruhi oleh aktivitas manusia.Tipe habitat ini dapat dibedakan ke dalam dua sub tipe, yaitu Flat Savana (padang rumput alami datar) dan /undulting Savana (padang rumput alami bergelombang). Flat Savana tumbuh pada tanah aluvial berbatu-batu. Sub tipe savana ini terdapat di bagian Tenggara kawasan, yaitu daerah sekitar Plalangan dan Bekol dengan luasan sekitar 1500 ha. sampai dengan 2000 ha.Sebagian besar dari populasi banteng, rusa maupun kerbau liar mempergunakan areal ini untuk merumput. Jenis-jenis rumput yang dominan di daerah ini adalah Lamuran putih (Dichantium caricosum), Rumput merakan (Heteropogon concortus) dan Padi-padian (Shorgum nitidus). Beberapa pohon yang menghuni savana in antara lain Pilang (Acacia leucophloea) dan Kesambi (Schleichera oleosa). Khusus padang rumput alami di daerah Bekol seluas 420 ha. saat ini telah ditumbuhi tanaman Acacia nilotica yang semula tanaman ini ditanam untuk penyekat kebakaran, namun pemerintah telah berusaha untuk mencabut tanaman tersebut secara bertahap yaitu seluas 25 ha. per tahun

D.HUTAN MUSIM ( DATARAN TINGGI DAN DATARAN RENDAH)
Hutan monsoon yang terdapat di Taman Nasional Baluran dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu hutan monsoon dataran rendah dan hutan monsoon dataran tinggi. Daerah transisi kedua hutan ini terletak pada ketinggian 250 - 400 meter dari permukaan air laut. Di kawasan Baluran juga terdapat tanaman yang dapat dipakai sebagai bahan obat tradisional,


4. KADAR CO 2 AIR LAUT
Keasaman laut ini mengancam organisme laut yang berperan dalam membangun terumbu (biota berkapur: karang, kerang, kipas laut, dsb.) - mereka yang selama ini menyumbang oksigen dari hutan lindung laut di pesisir kita.Karang / Coral dan plankton dengan tubuh berkapur mereka menduduki tingkat dasar di rantai makanan laut. Mereka bergantung kepada air laut yang mengandung calcium carbonate, sebagai bahan dasar membangun kerangka tubuh mereka. Sedihnya, ketika keasaman laut berubah, dalam hal ini meningkat, kelarutan kalsium karbonat tersebut menurun, membuat mereka sulit mendapatkan 'semen tiga roda' untuk tumbuh (kalsifikasi).
5. BIOTA LAUT




Terdapat juga jenis ikan yang memiliki pola warna kurang indah tetapi cara hidup dan pergerakannya secara berkelompok, sehingga membentuk panorama alam bawah air yang tidak kalah menariknya, misalnya: ikan Betok (Amblyglyphydodon curacao) dan ikan Besem (Apogon quenquelineata).
Sedangkan jenis ikan yang mempunyai hubungan erat dengan terumbu karang serta bernilai ekonomi penting yang dapat dijumpai di kawasan perairan Taman Nasional Baluran, antara lain:
- Ikan Kakap dari suku LUJCANNIDAE ada 7 jenis.
- Ikan Baronang dari suku SINGANIDAE ada 10 jenis.
- Ikan Kerapu dari suku SURRANIDAE ada 10 jenis.
Jenis-jenis ikan yang diketemukan di wilayah Taman Nasional Baluran ada 172 jenis, sedangkan daerah yang memiliki terumbu karang dan ikan hias adalah:
1. Bama
2. Kajang
3. Balanan
4. Lempuyang
5. Air Karang
6. Bilik
7. Takat Wedi
Dari semua wilayah perairan, Bama dan Bilik merupakan daerah yang sangat baik untuk kegiatan wisata alam bahari (snorkeling dan scuba diving).
Dengan tiga penyelam bersertifikat POSSI yang dimiliki Taman Nasional Baluran saat ini, maka akan sangat membantu bagi pengunjung yang berminat untuk menikmati pesona alam bawah air.
6.PANTAI BAMA
Merupakan pantai yang landai dan berpasir putih, formasi terumbu karang dan ikan hias yang indah dan disini dapat melakukan kegiatan Snorkling.
Fasilitas lain yang tersedia 3 buah Pesanggrahan dengan kapasitas 20 orang, Shelter, Jalan Trail, Kantin, Menara Pandang dan Tempat Parkir.
Di sekitar Pantai Bama dapat disaksikan atraksi satwa:
- Ikan Kakap dari suku LUJCANNIDAE ada 7 jenis.
- Ikan Baronang dari suku SINGANIDAE ada 10 jenis.
- Ikan Kerapu dari suku SURRANIDAE ada 10 jenis.
Jenis-jenis ikan yang diketemukan di wilayah Taman Nasional Baluran ada 172 jenis, sedangkan daerah yang memiliki terumbu karang dan ikan hias adalah:
1. Bama
2. Kajang
3. Balanan
4. Lempuyang
5. Air Karang
6. Bilik
7. Takat Wedi
Dari semua wilayah perairan, Bama dan Bilik merupakan daerah yang sangat baik untuk kegiatan wisata alam bahari (snorkeling dan scuba diving).
Dengan tiga penyelam bersertifikat POSSI yang dimiliki Taman Nasional Baluran saat ini, maka akan sangat membantu bagi pengunjung yang berminat untuk menikmati pesona alam bawah air.
6.PANTAI BAMA
Merupakan pantai yang landai dan berpasir putih, formasi terumbu karang dan ikan hias yang indah dan disini dapat melakukan kegiatan Snorkling.
Fasilitas lain yang tersedia 3 buah Pesanggrahan dengan kapasitas 20 orang, Shelter, Jalan Trail, Kantin, Menara Pandang dan Tempat Parkir.
Di sekitar Pantai Bama dapat disaksikan atraksi satwa:
- Kerbau liar sedang minum
- Kijang dan Rusa
- Babi hutan mencari makan
- Biawak
- Ratusan Kera yang sedang mencari makan di daerah pantai pada waktu air laut sedang surut.




